Home blog Rojaban Di Pedesaan. Seperti Apa Pemaparannya?

Rojaban Di Pedesaan. Seperti Apa Pemaparannya?

119
0
SHARE

AZ-NEWS – Melihat dekat kegiatan di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA), Nurul Iman, Kp. Cikaret RT 3 RW 1 Desa Sukamulya. Kec Leles, Cianjur, Sabtu malam Minggu (30/3/2018). Penulis memperhatikan orang-orang berkumpul dari mulai putra-putri santri anak, remaja, dewasa, bapak-bapak hingga kakek-kakek dan nenek-nenek serta hadirin yang hadir di DKM Masjid Nurul Iman. Puluhan motor berjejer memadati halaman masjid. Tiada lain acara Isra’ Mi’raj. Hikmah yang bisa dipetik, pertama, kebersamaan mereka dalam mensukseskan acara.

Selesai solawatan, susunan acar di pandu Ustad Asep Sutisna; pembukaan, sambutan, hadiah, pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ustad Hamzah, sambutan-sambutan hingga ceramah disampaikan Ustad Muhammad Gupron Fauzi S.Pd.I M.Pd,. Inti peringatan pelajaran dalam perjalanan malam yang disampaikan Muhammad Gufron Fauzi, diantaranya terpaan ujian kepada Nabi Muhammad SAW. Belum lagi usai duka orang pertama pemanda tercinta, Abu Thalib, yang setia bertaruh nyawa untuk keponakannya, Muhammad SAW…

Tidak saja kepergian sang paman yang membuat terluka, tapi cara ia pergi pun semakin membuat Rasulullah SAW bertambah luka. Disusul perempuan paling mulia itu pergi menghadap Rabbnya. Khadijah, yang selama itu menjadi sandaran paling teduh bagi Muhammad, pun mangkat. Perempuan pertama yang beriman saat manusia banyak mengingkarinya. Perempuan yang pertama yang berkorban saat manusia lain hendak khianat.

Dipaparkan Fauzi, sungguh tak berlebihan jika tahun itu disebut sebagai tahun duka cita, duka yang bertumpuk-tumpuk beratnya. Tapi sungguh, itu hanya sebuah cara Allah SWT mendidik Nabi Muhammad SAW dan memberikan pelajaran bagi sejarah manusia. Menurut Fauzi, Isra’ Mi’raj, dalam Al-Qur’an ada banyak kalimat Subhana (maha suci); ada fiil mani, fiil mudore, fiil ama, isim fail. Isra mi’raj. Isra, dimana Rasul diberangkatkan dengan seluruh jasadnya oleh Jibril dengan menunggang Burraq. Dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis yang mulia…

Di sana yang kini lebih kita kenal dengan Masjidil Aqsha, telah menanti para nabi dari setiap zaman untuk shalat bersama dan menjadi makmum dari yang imam, Rasulullah Muhammad SAW. Lanjut Fauzi, di sini penting iman dan ilmu untuk menerima sejarah Nabi kita perjalanan malam untuk menerima program dari Allah SWT. Masjid Al-Aqsha menjadi saksi, sang nabi naik satu persatu lapisan langit di atas bumi. Sampai di Sidratul Muntaha dan juga Baitul Makmur, kemudian menghadap Allah dan mendekat ke singgasana-Nya untuk menerima perintah shalat bagi umatnya. Ditegaskan ustad Fauzi, ini sebuah perintah yang akan memuliakan seluruh umat Muhammad SAW. Shalat. “Jika kita melewati peringatan Isra’ Mi’raj, kumaha warga Sukamulya osok rajin berjamaah shalat lima waktu?,” tanya Fauzi kepada mustami sembari nada senda gurau…
Fauzi mengajak seluruh hadirin untuk tabah dan kuat iman meskipun zaman sudah beda bahkan terbalik penuh dengan fitnah dan riba. Dan sekali lagi mengingat dan meneguhkan kembali tentang program perintah shalat yang dijemput sendiri oleh Nabi dan berikan langsung oleh Rabbul Izzati. “Apapun zaman cobaan dan kesulitan menimpa kita, mari tegakkan shalat dan sabar,” demikian dipaparkan Gufran Fauzi dalam ceramahnya.
Terakhir, dia mengajak mustami dan warga Cianjur mendukung 7 program pilar keagamaan Cianjur. Kegiatan pengajian malam berjalan lancar dan khidmat. (Tas).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here